Internalisasi Nilai-nilai Islam dalam Praktik Ritual untuk Membentuk Karakter Siswa

Internalization of Islamic Values in Ritual Practice to Form Student Character

Authors

  • Sri Mulyani Maisaro Universitas Muhammadiyah Jakarta, Indonesia
  • Sa’diyah Sa’diyah Universitas Muhammadiyah Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59525/gej.1544

Keywords:

Internalization of Islamic Values, Ritual Practice, Student Character

Abstract

Internalization of Islamic values ​​through ritual practice in elementary schools is an important strategy in shaping students' character sustainably. This study aims to analyze four main aspects, namely the transformation, transaction, and transinternalization stages of Islamic values ​​in ritual practice, as well as the results of this internalization on the formation of student character at Al-Ummah Integrated Islamic Elementary School, Ciputat, South Tangerang. This study uses a qualitative approach with a descriptive method that aims to deeply understand the phenomenon of internalization of Islamic values ​​through religious activities in schools. Data analysis was carried out using the Milles and Huberman interactive model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that 1) The value transformation stage, providing verbal understanding of the meaning of worship. 2) The value transaction stage, two-way interaction through worship practices and direct guidance. 3) The value transinternalization stage, teacher role models and behavioral consistency until the values ​​are integrated within the students. 4) The results of internalization are seen in the formation of religious character, increased discipline and responsibility, the development of noble morals, and the growth of social awareness and positive behavior in students' daily lives.

References

Keywords:

Internalization of Islamic Values, Ritual Practice, Student Character.

Internalization of Islamic values through ritual practice in elementary schools is an important strategy in shaping students' character sustainably. This study aims to analyze four main aspects, namely the transformation, transaction, and transinternalization stages of Islamic values in ritual practice, as well as the results of this internalization on the formation of student character at Al-Ummah Integrated Islamic Elementary School, Ciputat, South Tangerang. This study uses a qualitative approach with a descriptive method that aims to deeply understand the phenomenon of internalization of Islamic values through religious activities in schools. Data analysis was carried out using the Milles and Huberman interactive model which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that 1) The value transformation stage, providing verbal understanding of the meaning of worship. 2) The value transaction stage, two-way interaction through worship practices and direct guidance. 3) The value transinternalization stage, teacher role models and behavioral consistency until the values are integrated within the students. 4) The results of internalization are seen in the formation of religious character, increased discipline and responsibility, the development of noble morals, and the growth of social awareness and positive behavior in students' daily lives.

Article history:

Received: 2026-03-12

Revised: 2026-04-10

Accepted: 2026-05-10

This is an open-access article under the CC BY-SA license.

Corresponding Author:

Sri Mulyani Maisaro

Universitas Muhammadiyah Jakarta, Indonesia; srimulyanimaysaroh9@gmail.com

1. PENDAHULUAN

Pendidikan Islam secara konseptual bertujuan untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan memiliki akhlak yang baik dengan cara menanamkan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai aspek kehidupan. Internalisasi nilai bukan hanya tentang memberikan materi pelajaran, tetapi juga proses membentuk keyakinan dan membiasakan perilaku yang dilakukan secara sadar, bertahap, dan terus-menerus.

Proses ini sangat penting karena masa perkembangan anak adalah masa yang sangat baik untuk membentuk dasar moral dan spiritualnya. Dalam konteks ini, yang dibutuhkan tidak hanya pengajaran ilmu, tetapi juga untuk melatih sikap dan karakter seseorang. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus memiliki cara yang mampu menghubungkan antara nilai-nilai ajaran agama dan kehidupan nyata.

Dalam kegiatan keagamaan seperti pembiasaan ibadah memiliki potensi untuk membentuk sikap spiritual dan sosial siswa. Namun, di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi yang cepat, nilai-nilai spiritual seringkali terabaikan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Sebagian besar siswa lebih mengenal tren media sosial dibandingkan dengan pembelajaran tentang keagamaan, sehingga penting untuk memperkuat nilai-nilai tersebut melalui pendekatan yang bermakna di lingkungan sekolah.

Pendekatan pengajaran yang digunakan oleh guru, metode yang melibatkan siswa secara aktif, serta penerapan nilai-nilai dalam proses refleksi sering kali diabaikan. Karena itu, penting melakukan analisis yang tidak hanya menjelaskan secara kognitif, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana proses internalisasi nilai-nilai Islam sebenarnya berlangsung dalam pengalaman belajar siswa.

Figur Rasulullah menjadi pusat rujukan utama yang harus dikenalkan dan ditanamkan sejak dini melalui berbagai aktivitas pendidikan. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pribadi Rasulullah menjadi sumber ajaran yang dapat diinternalisasikan secara kontekstual dalam kehidupan siswa. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Ayat ini menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah contoh yang sempurna dalam membentuk sifat dan karakter seseorang. Keteladanan (uswah hasanah) adalah cara mengajar yang paling baik karena nilai-nilai itu tidak hanya dijelaskan, tetapi juga ditunjukkan dan dilakukan secara nyata. Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam Islam memiliki dasar agama yang jelas dan memerlukan penerapan nyata dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

Dalam sistem pendidikan formal, terutama di tingkat sekolah dasar, masa perkembangan anak berada di tahap membentuk dasar moral dan spiritual mereka. Usia sekolah dasar adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak karena pada masa ini anak lebih mudah menerima nilai-nilai baru dan membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berdampak pada masa depannya.

Jika nilai-nilai Islam diajarkan secara terus-menerus sejak kecil, nilai tersebut akan membentuk cara berpikir dan tindakan yang tetap hingga dewasa. Oleh karena itu, lembaga pendidikan dasar Islam memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan strategi yang baik dan terus-menerus untuk menyampaikan nilai-nilai yang bermanfaat.

Internalisasi nilai-nilai Islam tidak terjadi secara instan, melainkan dilakukan secara bertahap melalui proses memahami, merasakan, dan menerapkan nilai-nilai tersebut. Nilai yang hanya diucapkan secara lisan tanpa pengalaman langsung biasanya tidak bertahan lama dalam pikiran siswa. Dalam Islam, membiasakan diri dan meniru orang lain merupakan cara utama dalam proses menerima dan menerapkan nilai-nilai tersebut.

Salah satu cara praktis dalam pendidikan Islam adalah dengan melakukan ritual practice, yaitu pembiasaan ibadah yang dilakukan secara teratur dan berulang di dalam lingkungan sekolah. Bentuknya bisa berupa salat duha berjamaah, salat zuhur berjamaah, kegiatan menghafal Al-Qur'an, pembiasaan doa, serta kegiatan memperingati hari besar Islam.

Ritual practice bukan hanya sekadar tindakan simbolik, tetapi juga cara untuk mengajar peserta didik agar secara langsung mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terlibat aktif dalam kegiatan tersebut, siswa bisa memahami arti spiritual sekaligus membentuk kebiasaan yang baik. Ritual practice memiliki kemungkinan besar menjadi sarana untuk menerima nilai-nilai dalam membentuk karakter siswa.

Ritual practice di sekolah menjadi sarana pembelajaran yang mempertemukan guru dan siswa untuk saling berinteraksi dan memahami nilai-nilai Islam secara lebih mendalam. Melalui pembiasaan ibadah seperti salat berjamaah, doa dan zikir, menghafal Al-Qur’an, serta kegiatan peringatan hari besar islam, siswa diajarkan untuk menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai Islam yang tertanam dalam diri seseorang melalui kebiasaan beribadah mencakup sifat jujur (shiddiq), rasa tanggung jawab (amanah), kemampuan berpikir dan bersikap bijak (fathanah), serta keberanian menyampaikan kebenaran (tabligh). Keempat nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai teori saja, tetapi benar-benar dipraktikkan langsung oleh siswa. Ritual practice menjadi cara untuk membiasakan nilai-nilai yang membentuk karakter berdasarkan Islam.

Di SDIT, pembelajaran nilai tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga diperkuat oleh budaya sekolah yang berlandaskan agama serta berbagai kegiatan pembinaan karakter yang dilakukan secara terus menerus. Ritual practice menjadi bagian dari sistem pendidikan, yang menggabungkan aspek berpikir, perasaan, dan tindakan.

Proses penerimaan nilai-nilai tersebut terjadi karena siswa turut serta secara aktif, guru menjadi contoh yang baik, serta lingkungan sekolah yang menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya kebiasaan positif. Dengan pendekatan ini, nilai-nilai Islam diharapkan tidak hanya dikenali, tetapi juga menjadi bagian dari sikap dan perilaku siswa. Namun di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan, pelaksanaan ritual practice masih perlu ditingkatkan, terutama dalam pendalaman makna dan penghayatan nilai ibadah. Kegiatan yang rutin dilakukan belum sepenuhnya disertai proses internalisasi yang terarah. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mendalam untuk mengkaji bagaimana internalisasi nilai-nilai Islam melalui ritual practice berkontribusi dalam membentuk karakter siswa secara nyata dan berkelanjutan.

Studi di SD Islam Al Chusnaini menunjukkan bahwa pembiasaan seperti salat berjamaah, tadarus, dan doa bersama berdampak positif pada karakter religius siswa. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa keterlibatan aktif siswa mampu menumbuhkan sikap menjaga kebersihan, disiplin, persatuan, dan tanggung jawab. Ritual practice yang dilakukan secara terstruktur terbukti mendukung pembentukan karakter peserta didik.

Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan ritual practice sebagai sarana internalisasi nilai Islam dalam membentuk karakter siswa. Melalui keterlibatan aktif siswa dalam pembiasaan salat berjamaah dan menghafal Al-Qur’an dapat menjadi proses pembinaan karakter yang terarah dan berkelanjutan. Hasilnya diharapkan menjadi acuan bagi SDIT lainnya dalam meningkatkan kualitas pembentukan karakter berbasis ritual practice agar lebih bermakna dan berdampak terhadap perilaku siswa. Penelitian ini penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai Islam diinternalisasikan siswa melalui praktik ritual di sekolah. Hasilnya diharapkan menjadi acuan dalam merancang pembinaan karakter yang lebih terstruktur dan bermakna, sehingga kegiatan keagamaan di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar membentuk karakter muslim yang kuat.

2. METODE

Penelitian ini dilaksanakan di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat, Tangerang Selatan, selama 8 bulan, yaitu dari Juni 2025 hingga Januari 2026. Tujuan penelitian adalah untuk memahami proses dan hasil internalisasi nilai-nilai Islam melalui praktik ritual dalam membentuk karakter siswa. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, karena penelitian ini berfokus pada penggalian data secara mendalam mengenai fenomena yang terjadi secara alami di lingkungan sekolah yang memiliki dukungan kuat terhadap pendidikan berbasis nilai Islam.

Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan menggambarkan fenomena secara sistematis dalam bentuk narasi. Data penelitian diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Data primer berasal dari kepala sekolah, guru PAI, dan siswa melalui observasi dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dokumen, dan sumber tertulis lainnya. Teknik pengumpulan data meliputi observasi untuk mengamati langsung kegiatan, wawancara untuk menggali informasi mendalam, serta dokumentasi sebagai pelengkap dan penguat data.

Analisis data dilakukan secara berkelanjutan sejak sebelum, selama, hingga setelah penelitian di lapangan. Penelitian ini menggunakan model analisis Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Ketiga proses ini dilakukan secara siklus dan berulang hingga data yang diperoleh mencapai titik kejenuhan, sehingga hasil penelitian dapat memberikan gambaran yang komprehensif dan valid.

3. TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang sudah disajikan dan dianalisis, dilakukan pembahasan mengenai hasil penelitian dalam bentuk penjelasan yang sesuai dengan topik penelitian. Pembahasan ini disesuaikan dengan fokus penelitian yang terdapat dalam skripsi, sehingga memudahkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam fokus penelitian tersebut.

Tahap Transformasi Nilai-nilai Islam dalam Ritual Practice untuk Membentuk Karakter Siswa di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan

Internalisasi nilai-nilai Islam merupakan proses penanaman nilai keagamaan yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, sehingga menjadi bagian dari sikap dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Mu'allimah Rodhiyana menjelaskan bahwa internalisasi nilai Islami adalah upaya memasukkan nilai-nilai agama seperti iman, ihsan, kejujuran, dan tanggung jawab sampai menjadi bagian dari kepribadian dan perilaku siswa.

Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, diperoleh hasil bahwa proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice untuk membentuk karakter siswa di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan terjadi melalui tahap transformasi nilai-nilai Islam.

Pada tahap transformasi nilai-nilai Islam yang ditemukan dalam penelitian di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan menunjukkan bahwa guru dan kepala sekolah secara intensif menyampaikan nilai akidah, ibadah, dan akhlak melalui komunikasi verbal serta pembiasaan. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami nilai tersebut secara teori, tetapi juga mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan penelitian Fatkhurrozi yang menunjukkan bahwa, bahwa transformasi nilai adalah proses memberikan informasi dan pengetahuan tentang nilai-nilai agama melalui komunikasi antara guru dan murid. Pada tahap ini, guru bertindak sebagai orang yang utama dalam berkomunikasi, memberikan pesan, serta mencontohkan secara nyata bagaimana perilaku sesuai dengan agama Islam. Komunikasi itu tidak hanya memengaruhi pemahaman siswa, tetapi juga menyentuh aspek afektif siswa.

Penelitian Samsul Arifin dan Mohammad Asrori menunjukkan bahwa tahap transformasi nilai dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam menekankan pada pemberian pengetahuan awal dan pembiasaan melalui praktik salat berjamaah yang dilakukan secara konsisten di sekolah, kegiatan ini tidak hanya menjadi aktivitas ritual, tetapi juga sarana sistematis untuk memperkenalkan dan mengaitkan nilai ajaran Islam dengan perilaku siswa sehari-hari sebelum memasuki tahap internalisasi yang lebih mendalam.

Selain itu, Penelitian Lailatul Karimah, Edi Susanto, dan Muhadi menemukan bahwa pada tahap transformasi nilai guru memulai dengan memberi pemahaman awal mengenai nilai agama melalui pembiasaan dan praktik keagamaan terstruktur, seperti salat berjamaah dan doa bersama, serta pengintegrasian nilai aqidah dan akhlak dalam kegiatan sekolah. Sebelum menjadi bagian dari perilaku siswa, nilai tersebut diperkenalkan terlebih dahulu melalui praktik ritual dan komunikasi yang mengaitkan teori dengan kehidupan sehari-hari.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa transformasi nilai merupakan tahap awal yang memfokuskan pemberian pemahaman dasar tentang ajaran Islam melalui komunikasi langsung antara guru dan siswa serta pembiasaan ibadah rutin di sekolah. Guru menjadi figur sentral dalam menyampaikan pesan keagamaan dan memberikan contoh perilaku Islami sebagai dasar pembentukan karakter siswa.

Dari penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa tahap transformasi nilai di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan dilakukan melalui penyampaian nilai secara lisan, keteladanan guru, dan pembiasaan ibadah yang konsisten. Melalui ritual practice yang terarah dan komunikasi yang berkesinambungan, nilai-nilai Islam mulai tercermin dalam perilaku religius siswa di lingkungan sekolah.

Tahap Transaksi Nilai-nilai Islam dalam Ritual Practice untuk Membentuk Karakter Siswa di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan

Tahap transaksi nilai dalam ritual practice di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan berlangsung melalui komunikasi dua arah antara guru dan siswa yang memungkinkan siswa memahami nilai dari pengalaman pribadi. Interaksi tersebut terlihat dalam kegiatan diskusi, penampilan siswa, serta pembinaan individual oleh guru dalam mengarahkan perilaku siswa agar selaras dengan nilai adab Islami.

Peraturan adab yang disampaikan secara logis, membantu mereka memahami alasan dan nilai akhlak di balik aturan tersebut. Dengan cara ini, proses transaksi nilai berlangsung melalui interaksi dan pengalaman bersama, bukan hanya melalui penyampaian satu arah.

Penelitian Fatkhurrozi mengungkapkan bahwa tahap transaksi nilai ditandai dengan pemberian contoh konkret oleh guru setelah penyampaian materi, seperti mengajak siswa melaksanakan ibadah bersama, membimbing tata cara wudu dan salat, serta mencontohkan etika berbicara dan bersikap. Pembiasaan salat duha dan salat berjamaah memperkuat proses transaksi nilai karena siswa terlibat langsung dalam praktik keagamaan yang dibimbing guru. Selain itu, skripsi Fahmidah Luthfiyah menegaskan bahwa pembiasaan salat duha secara berjemaah menjadi salah satu upaya nyata dalam menanamkan karakter religius karena siswa terlibat langsung dalam pelaksanaan ibadah sunnah tersebut. Kegiatan ini bukan sekadar melatih kedisiplinan waktu, tetapi juga membangun kedekatan batin dengan Allah, menumbuhkan kesadaran beribadah, serta membiasakan siswa untuk bersandar dan memohon hanya kepada-Nya.

Selanjutnya, penelitian M. Thoha dan Muhamad Nasrudin Fajri menunjukkan bahwa pembiasaan salat duha dan zuhur berjamaah diselenggarakan secara teratur sehingga menjadi cara utama agar siswa mulai memahami nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah berjamaah yang rutin tidak hanya melatih kedisiplinan dan keterlibatan siswa, tetapi juga membantu mereka menyerap nilai religius seperti sikap bertanggung jawab, sopan santun, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari pembentukan karakter. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada tahap transaksi nilai, proses penanaman nilai Islam berlangsung melalui keterlibatan langsung siswa dalam praktik ibadah yang dibimbing guru. Nilai tidak hanya dijelaskan, tetapi dipraktikkan bersama melalui salat berjamaah dan pembiasaan adab sehari-hari, sehingga membantu membangun disiplin dan kesadaran spiritual siswa.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada tahap transaksi nilai di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan, proses internalisasi berlangsung melalui praktik ibadah bersama, keteladanan guru, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan religius sekolah, sehingga nilai-nilai keislaman secara bertahap membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, dan akhlak yang baik dalam diri siswa.

Tahap Transinternalisasi Nilai-nilai Islam dalam Ritual Practice untuk Membentuk Karakter Siswa di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan

Tahap transinternalisasi nilai dalam ritual practice di SD Islam Terpadu Al‑Ummah Ciputat Tangerang Selatan, berjalan efektif karena siswa tidak hanya memahami nilai-nilai Islam secara teori, tetapi juga melihat dan mencontoh langsung perilaku guru. Guru sebagai teladan menunjukkan akhlak, ibadah, dan kepedulian sosial, sehingga nilai-nilai tersebut dirasakan secara nyata oleh siswa.

Pembiasaan rutin seperti salat berjamaah, menghafal Al-Qur’an, dan pembiasaan doa, memperkuat keterikatan emosional siswa terhadap ibadah. Respon siswa yang senang berbuat baik, menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi kebiasaan positif. Interaksi yang hangat dan keteladanan guru membuat siswa tidak hanya memahami nilai, tetapi benar-benar mempraktikkannya.

Penelitian Fahmidah Luthfiyah mengungkapkan bahwa tahap transinternalisasi nilai dilakukan melalui contoh nyata dari guru yang membiasakan ibadah bersama siswa. Dari proses tersebut, siswa mulai membangun kesadaran iman dan rasa syukur yang tercermin dalam kebiasaan berdoa, melaksanakan ibadah sunnah, serta menunjukkan sikap tawakal kepada Allah. Nilai-nilai keislaman yang semula dipahami secara konsep kemudian tumbuh menjadi bagian dari karakter siswa di sekolah.

Selain itu, penelitian Fatkhurrozi menegaskan bahwa pada tahap transinternalisasi, penanaman nilai-nilai Islam dilakukan melalui contoh nyata dari guru yang menampilkan perilaku dan kepribadian sesuai ajaran Islam. Guru berperan sebagai teladan dalam akhlak, praktik ibadah, dan kepedulian sosial, sehingga siswa menirunya dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan dekat antara guru dan siswa mendukung proses bimbingan dan refleksi, membuat nilai-nilai keagamaan lebih mudah diinternalisasi.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada tahap transinternalisasi nilai di SD Islam Terpadu Al‑Ummah Ciputat Tangerang Selatan, guru menjadi teladan nyata bagi siswa dalam menjalankan ibadah dan bersikap religius. Melalui pembiasaan salat duha dan zuhur berjamaah, menghafal Al-Qur’an, dan pembiasaan berdoa, siswa tidak hanya memahami nilai-nilai Islam secara teori, tetapi juga mencontoh dan menerapkannya dalam keseharian, sehingga perilaku dan karakter religius mereka terbentuk secara konsisten.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tahap transinternalisasi nilai berfokus pada praktik ibadah yang dibiasakan dan keteladanan guru sebagai media utama pembentukan karakter. Keterlibatan siswa dalam kegiatan ritual seperti salat berjamaah dan doa, dipadukan dengan mencontoh perilaku guru yang religius, membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai keislaman secara nyata, sehingga karakter religius mereka tumbuh secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Hasil Internalisasi Nilai-nilai Islam dalam Ritual Practice untuk Membentuk Karakter Siswa di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan

Internalisasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran Akidah Akhlak berdampak terhadap pembentukan karakter siswa. Penelitian A. Mustika Abidin menunjukkan bahwa penanaman nilai tauhid dan akhlak mendorong siswa lebih disiplin dan taat aturan. Siswa lebih memahami perilaku baik dan buruk. Dampaknya terlihat pada meningkatnya sikap religius dan tanggung jawab siswa, sehingga internalisasi nilai Islam menjadi dasar pembentukan karakter positif.

Berdasarkan teori yang telah dipaparkan di atas dengan hasil pengumpulan data yang dilakukan peneliti melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan, pembahasan ini difokuskan pada dampak internalisasi nilai-nilai Islam terhadap pembentukan karakter siswa, yang meliputi :

Meningkatnya Karakter Religius, Membentuk Sikap Disiplin dan Tanggung Jawab, Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan, Meningkatnya Kepedulian Sosial, serta Menumbuhkan Perilaku Positif.

1. Meningkatnya Karakter Religius

Internalisasi nilai-nilai Islam melalui ritual practice seperti salat duha dan zuhur berjamaah, menghafal Al-Qur’an, dan pembiasaan berdoa membentuk kebiasaan beragama yang dilakukan secara sadar dan berulang. Pembiasaan yang konsisten membuat nilai religius tidak hanya dipahami, tetapi tumbuh menjadi sikap. Siswa mulai terbiasa beribadah dengan kesadaran sendiri, sehingga terbentuk dasar karakter religius yang kuat.

Penelitian Samsul Arifin dan Mohammad Asrori menemukan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan yang dilakukan secara teratur membuat siswa tidak sekadar memahami ajaran Islam, tetapi juga menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Dengan ikut serta dalam berbagai peran selama ibadah, seperti imam, muadzin, petugas kebersihan, siswa menunjukkan kesadaran beribadah, akhlak yang baik, serta kedisiplinan.

Penelitian M. Thoha dan Muhamad Nasrudin Fajri, menegaskan bahwa ibadah harus disertai pemahaman dan penghayatan makna, agar praktik ritual benar-benar membentuk karakter, bukan sekadar menjadi kegiatan rutin. Maka dari itu, pentingnya menyentuh aspek emosional dan kognitif dalam pembiasaan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam peran ibadah, seperti imam, muadzin, atau petugas kebersihan, membantu mereka menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penghayatan makna ibadah yang melibatkan pemahaman dan kesadaran emosional menjadikan praktik ritual bukan sekadar rutinitas, tetapi menanamkan nilai-nilai religius yang membentuk karakter dasar siswa.

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice secara konsisten membentuk karakter religius siswa. Pembiasaan ibadah yang dilakukan dengan kesadaran dan penghayatan makna menumbuhkan kesadaran beribadah, akhlak mulia, serta kedisiplinan, sehingga praktik ibadah menjadi sarana efektif dalam pembentukan karakter siswa di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan.

2. Membentuk Sikap Disiplin dan Tanggung Jawab

Ritual keagamaan yang diadakan secara teratur membiasakan siswa untuk disiplin dalam waktu, taat pada peraturan, dan menyelesaikan tugas dengan tertib. Disiplin bukan hanya karena aturan sekolah, tetapi karena pemahaman bahwa ibadah adalah tanggung jawab kepada Allah. Hal ini membantu meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dan merasa bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan penelitian M. Thoha dan Muhamad Nasrudin Fajri, menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah menanamkan kesadaran spiritual, membangun moralitas seperti kejujuran dan sopan santun, serta menumbuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dengan penghayatan makna ibadah, pembiasaan ini tidak sekadar rutinitas, tetapi memberikan dampak yang lebih mendalam dan berkelanjutan dalam pembentukan karakter.

Penelitian Fatkhurrozi menjelaskan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam melalui praktik ibadah rutin di sekolah membentuk sikap disiplin dan tanggung jawab siswa. Dengan keterlibatan siswa dalam setiap kegiatan, siswa belajar bersikap disiplin, menyelesaikan tugas secara bertanggung jawab, dan menunjukkan sikap ikhlas serta sopan santun. Secara bertahap, praktik ini menumbuhkan karakter yang konsisten, di mana nilai-nilai agama menjadi bagian dari perilaku sehari-hari dan membentuk fondasi moral serta kedisiplinan yang kuat dalam kehidupan mereka.

Selanjutnya, Destatil Maghfiroh dan Nur Aisyah menunjukkan bahwa internalisasi nilai Islam melalui budaya religius sekolah efektif menumbuhkan akhlak mulia, kedisiplinan, dan tanggung jawab siswa. Dengan mengintegrasikan nilai akidah, moral, ibadah, dan kehidupan sosial, siswa tidak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai tersebut kedalam perilaku mereka, sehingga karakter religius, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab semakin kuat.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan seperti salat berjamaah, tadarrus Al-Qur’an, dzikir, dan doa bersama membiasakan siswa untuk menepati waktu, mematuhi peraturan, serta menyelesaikan tugas dengan penuh kesadaran. Partisipasi siswa dalam setiap kegiatan ibadah menumbuhkan kesadaran spiritual, akhlak mulia, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang konsisten.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam melalui ritual keagamaan yang rutin mampu membangun karakter disiplin dan rasa tanggung jawab siswa secara nyata. Dengan penghayatan makna ibadah dan keterlibatan aktif dalam setiap kegiatan, siswa belajar mengendalikan diri, dan melakukan kewajibannya.

3. Menanamkan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan

Penanaman akhlak mulia dalam ritual practice tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi melalui keteladanan nyata yang dilihat langsung oleh siswa. Sikap guru yang santun, sabar, dan membimbing dengan penuh perhatian menjadi contoh konkret yang mudah ditiru, sehingga nilai-nilai tersebut lebih mudah tertanam dalam perilaku siswa.

Berdasarkan penelitian Fahmidah Luthfiyah, dalam kegiatan seperti salat berjamaah guru tidak hanya berperan sebagai pengarah, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap santun, sabar, dan bertanggung jawab. Keteladanan tersebut memudahkan siswa meniru perilaku baik yang mereka lihat secara langsung, sehingga nilai akhlak tidak hanya dipahami, tetapi diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Penelitian oleh Samsul Arifin dan Mohammad Asrori menunjukkan bahwa hasil internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice sangat dipengaruhi oleh peran guru sebagai teladan. Melalui pembiasaan seperti memberi salam, membimbing salat dan membaca Al-Qur’an, guru menanamkan akhlak mulia secara langsung. Konsistensi keteladanan tersebut membuat nilai-nilai agama lebih mudah tertanam dan tercermin dalam sikap santun, disiplin, dan tanggung jawab siswa.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice sangat dipengaruhi oleh keteladanan guru. Guru tidak hanya mengarahkan pelaksanaan ibadah, tetapi juga memperlihatkan sikap santun, sabar, dan bertanggung jawab yang dapat dilihat langsung oleh siswa. Melalui pembiasaan seperti memberi salam, membimbing salat, serta mendampingi saat kegiatan menghafal Al-Qur’an. Konsistensi tersebut memudahkan nilai akhlak tertanam dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan berjalan efektif ketika didukung oleh keteladanan guru. Nilai-nilai akhlak yang diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata bisa menjadi contoh bagi siswa. Dengan demikian, praktik ibadah yang disertai pembimbingan dan keteladanan mampu membentuk karakter santun, disiplin, dan bertanggung jawab dalam keseharian siswa.

4. Meningkatnya Kepedulian Sosial

Internalisasi nilai-nilai Islam melalui kegiatan keagamaan yang dilakukan bersama, siswa belajar untuk peduli dengan orang lain dan saling mendukung dalam setiap kegiatan sehingga tumbuh rasa kebersamaan. Pengalaman berinteraksi secara langsung dalam doa dan kegiatan bersama melatih siswa untuk bersikap empati, menghargai teman, dan menghormati perbedaan.

M. Thoha dan Muhamad Nasrudin Fajri menunjukkan bahwa melalui interaksi langsung dalam doa dan aktivitas keagamaan bersama, siswa belajar mendukung satu sama lain serta menghormati perbedaan. Proses ini diperkuat oleh budaya sekolah yang religius, keteladanan guru, serta dukungan keluarga dan lingkungan sosial, sehingga nilai-nilai religius yang dipahami tidak berhenti pada aspek kognitif, melainkan terwujud dalam sikap toleran, peduli, dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, penelitian Lailatul Karimah, Edi Susanto, dan Muhadi menunjukkan bahwa internalisasi nilai tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas ibadah, tetapi juga diperkuat oleh lingkungan sekolah yang religius dan tertib. Dukungan lingkungan yang positif membantu memperkuat nilai-nilai Islam yang telah ditanamkan, sehingga sikap peduli dan berakhlak baik semakin berkembang dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam dan akhlak di lingkungan sekolah berperan penting dalam mendorong kepedulian sosial siswa. Penanaman nilai toleransi, kepedulian, dan tanggung jawab sosial melalui pembiasaan ibadah, kegiatan sosial, serta perilaku kerja sama dan saling membantu membentuk kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitar.

Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan efektif dalam membentuk karakter sosial siswa. Kegiatan ibadah yang dilakukan secara kolektif, menjadikan siswa lebih peduli dan saling menghormati. Dengan demikian, ritual pracrice tidak hanya memperkuat dimensi spiritual, tetapi juga membangun karakter sosial yang menjadi bagian penting dari pembentukan kepribadian siswa.

5. Menumbuhkan Perilaku Positif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam saat usia sekolah dasar, perilaku anak terbentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Ketika sekolah secara konsisten menghadirkan kegiatan yang mengandung nilai kebaikan, siswa terbiasa bersikap sopan, membantu teman, dan menghormati guru. Ritual practice tidak hanya memperkuat pemahaman agama, tetapi juga membentuk kebiasaan berperilaku positif yang kemudian menjadi bagian dari karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian Samsul Arifin dan Mohammad Asrori mengungkapkan bahwa pembiasaan ibadah yang terstruktur membentuk karakter religius dalam menjalankan ibadah, tanggung jawab terhadap tugas, serta sikap santun dan tolong-menolong antar teman. Selain itu, siswa mulai memiliki kesadaran kolektif dalam beribadah seperti salat berjamaah di luar sekolah. Program ini berdampak pada meningkatnya kedisiplinan dan hubungan baik antara siswa dan guru, sehingga nilai kebaikan yang ditanamkan menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian selanjutnya, Khoirun Nisa' dan Feri Kusmanto menegaskan bahwa ritual practice yang konsisten dilakukan adalah berjabat tangan dan mengucapkan salam, yang menjadi sarana penanaman nilai persaudaraan di sekolah. Melalui kebiasaan tersebut, siswa belajar memandang teman tanpa membedakan latar belakang serta menumbuhkan rasa ukhuwah sebagai sesama muslim. Interaksi sederhana ini mempererat silaturahmi, membangun sikap saling menghargai, serta membentuk karakter santun dan hormat kepada guru maupun teman.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai Islam melalui pembiasaan ibadah, budaya salam, serta interaksi yang dilandasi nilai persaudaraan dan tanggung jawab menjadikan siswa lebih disiplin, santun, peduli, dan terbiasa menghargai sesama. Nilai yang ditanamkan terwujud dalam tindakan nyata melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari di lingkungan sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan ritual practice di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan menjadi sarana efektif dalam membangun karakter islami siswa. Melalui kegiatan yang berkesinambungan, sekolah berhasil menanamkan nilai religius, kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap sosial yang harmonis. Internalisasi nilai-nilai Islam membentuk kepribadian siswa yang tercermin dalam perilaku positif baik di sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

4. CONCLUSION

Berdasarkan temuan dan pembahasan penelitian mengenai internalisasi nilai-nilai Islam dalam ritual practice di SD Islam Terpadu Al-Ummah Ciputat Tangerang Selatan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Tahap transformasi nilai dilaksanakan melalui penyampaian nilai-nilai Islam secara verbal yang disertai pembiasaan ibadah rutin seperti salat duha, salat zuhur berjamaah, tahfiz Al-Qur’an, dan doa bersama. Guru memberikan pemahaman tentang makna akidah, ibadah, dan akhlak sebelum praktik dilakukan, sehingga siswa tidak sekadar menjalankan kegiatan secara teknis, tetapi memahami tujuan spiritualnya. Tahap ini menjadi landasan awal dalam pembentukan karakter religius siswa. 2) Tahap transaksi nilai berlangsung melalui interaksi dua arah antara guru dan siswa dalam pelaksanaan ritual keagamaan. Siswa terlibat langsung dalam praktik ibadah, pembinaan adab, serta mendapatkan bimbingan dan umpan balik dari guru. Melalui keterlibatan aktif tersebut, siswa mulai memahami dan merespons nilai secara personal, sehingga nilai disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran beribadah mulai berkembang dalam diri mereka. 3) Tahap transinternalisasi ditandai dengan keteladanan dan konsistensi guru dalam menerapkan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan ibadah yang dilakukan secara berkelanjutan membuat siswa tidak hanya memahami nilai secara teori, tetapi meneladaninya hingga menjadi kebiasaan. Pada tahap ini, nilai religius mulai melekat dalam sikap dan perilaku siswa, baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. 4) Hasil internalisasi menunjukkan adanya peningkatan karakter religius, kedisiplinan, tanggung jawab, akhlak mulia, kepedulian sosial, serta perilaku positif siswa. Pembiasaan ritual keagamaan yang sistematis dan konsisten menjadikan nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi terlihat dalam tindakan nyata sehari-hari, sehingga efektif membentuk karakter siswa secara menyeluruh.

REFERENSI

Abidin, A. Mustika. (2022). “The Internalization of Islamic Values in the Learning of Aqidah Akhlak in Shaping the Character of Students at MAN 1 Bone.” Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam. 7(2), 20-21.

Alqudsi, Zainab, et.al. (2023). “Peran Internalisasi Nilai-nilai Islami dalam Penguatan Karakter Religius dan Komunikatif di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta.” Jurnal Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Borneo. 4(3), 361-362.

Amin, Moh Nasrul, et.al. (2024). “Peningkatkan Karakter Religius Siswa Melalui Internalisasi Nilai dalam Kegiatan Keagamaan dan Sosial.” Madinah: Jurnal Studi Islam. 11(2), 305-307.

Amin, Muhammad. (2024). “Peran Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter di Era Globalisasi.” Jurnal Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Kramat Jati. 5(1), 355.

Ardiansyah, Said Yai. 100 Hadits Pilihan: Pedoman Hidup Sehari-hari & Penjelasannya. Martapura, OKU Timur: Pustaka Miftahul-Khair, 2020.

Arifin, Samsul dan Mohammad Asrori. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Religius melalui Metode Pembiasaan Shalat Berjamaah di SDN Andonosari I Tutur Pasuruan.” EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies. 5(1).

Arminah dan Romelah. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Islam bagi Generasi Z di Tengah Arus Globalisasi.” ARINI: Jurnal Ilmiah dan Karya Inovasi Guru. 2(2), 354.

Astarina, Elisa Ade, et.al. (2026). “Internalisasi Nilai-Nilai Religius melalui Pembiasaan di SD Islam Terpadu Kota Malang.” AL IBTIDAIYAH: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. 7(1), 227.

Aziz, Aminuddin. (2024). “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam melalui Proses Habituation of Religious and Moral Values.” SAP (Susunan Artikel Pendidikan). 9(1), 17.

Busthomi, Yazidul. (2023). “Objek Kajian Islam (Akidah, Syariah, Akhlaq).” SALIMIYA: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam. 4(1), 74.

Carvina, Mona, et.al. (2023). “Implementasi Nilai Pendidikan Karakter Berbasis Islami di Sekolah Dasar.” Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam. 12(4), 2540-2541.

Damayanti, Ulfiyah Riska dan M. Mahbubi. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Asmaul Husna dalam Pendidikan Agama Islam untuk Membentuk Karakter Siswa Sekolah Dasar.” AL-MUADDIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan. 7(4), 617.

Darmiah. (2023). “Penanaman Nilai Akhlak Pada Anak Didik dalam Pendidikan Islam.” Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam. 13(1), 28-29.

Elvera dan Yesita Astrina. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2021.

Fatkhurrozi. “Internalisasi Nilai-Nilai Agama Islam dalam Membentuk Karakter Siswa (Studi Kasus di MA Matholi’ul Anwar) Karanggeneng Lamongan.” Tesis. Program Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2022.

Haryoko, Sapto, et.al. Analisis Data Penelitian Kualitatif (Konsep, Teknik, & Prosedur Analisis). Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar, 2020.

Hasan, Miftahul dan Ainur Rofiq Sofa. (2024). “Implementasi Konsep Islam Rahmatan lil ’Alamin dalam Pendidikan Karakter di SDN Seneng 1 Krucil Probolinggo.” Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam. 3(1), 268.

Hidayat, Rahmat Taufiqi dan Agus Purwowidodo. (2024). “Pengembangan Kesadaran Keberagamaan dan Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembiasaan Sholat Dhuha di Madrasah Ibtidaiyah.” Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah. 8(4), 1583-1585.

Irodati, Fibriyan. (2020). “Internalisasi Nilai-Nilai Religius pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).” Ar-Rihlah: Jurnal Inovasi Pengembangan Pendidikan Islam. 5(2), 101.

Irfan, Ahmad. Hadis Tarbawi: Kajian Akhlak Pendidik dan Peserta Didik Perspektif Rasulullah SAW. Banjar: Ruang Karya Bersama, 2024.

Ismail, Moh., et.al. (2022). “Pembentukan Karakter Religius Santri Berbasis Metode Kholwat.” Tadris: Jurnal Pendidikan Islam. 16(2), 4.

Jannah, Lutfiatul, et.al. (2020). “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Al-Qur’an.” Al-Muaddib. II(2), 89-90.

Juliardi, Budi, et.al. Filsafat Ilmu. Padang: CV. Gita Lentera, Cetakan Pertama, 2024.

Karimah, Lailatul, et.al. (2022). “Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman dengan Metode Pembiasaan pada Siswa di MTs Futuhiyyah Cahaya Mas.” Tarbiyatul Misbah: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan. XV(2).

Lubis, Adlan Fauzi. (2019). "Pembentukan Karakter melalui Hidden Curriculum (Studi Kasus pada Madrasah Aliyah Pembangunan UIN Jakarta)." Misyakat: Jurnal Kajian Islam dan Masyarakat. 30(1), 8.

Lubis, Doni Kusuma. (2024). “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter melalui Intervensi Program Keagamaan di SDIT Bunayya Medan Sunggal.” Jurnal Ilmiah Al-Hadi. 9(2), 70-72.

Lusi, Eliyah, dan Poniam. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam melalui Budaya Religius di Kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 29 Sedayu Tahun Pelajaran 2024-2025.” Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP). 3(6), 541-542.

Luthfiyah, Fahmidah. “Internalisasi Nilai-Nilai Karakter Religius melalui Kegiatan Salat Duha Berjemaah di Madrasah Tsanawiyah Annuriyyah Jember Tahun Pelajaran 2023/2024.” Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, 2024.

Maghfiroh, Destatil dan Nur Aisyah. (2023). “Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Siswa Melalui Budaya Religius.” Global Education Journal. 1(2), 305-306.

Miles, Matthew B., et.al. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. 3rd ed. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2014.

Misnan, et.al. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter Religius Siswa di SMP Swasta Al Washliyah 42 Berastagi.” PENDALAS: Jurnal Penelitian Tindakan Kelas dan Pengabdian Masyarakat. 5(3), 295-296.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017.

Muda, Ishak Ali dan M. Syukri Azwar Lubis. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Islam dalam Pembentukan Karakter: Analisis Psikologis dan Dampaknya pada Perilaku Prososial.” IJTIMAIYAH: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya. 9(1), 114-115.

Muharram. (2024). “Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Pendidikan Karakter untuk Membangun Generasi Berakhlak Mulia.” Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. 7(4), 15562-15563.

Munirah, et.al. (2022). “Penerapan Nilai-Nilai Agama Islam pada Peserta Didik Melalui Metode Pembiasaan.” IQRA: Jurnal Magister Pendidikan Islam. 2(1), 11.

Murdiyanto, Eko. Penelitian Kualitatif Teori Dan Aplikasi Disertai Contoh Proposal. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UPN "Veteran" Yogyakarta Press, 2020.

Muslimah, Nurjanatim, et.al. (2024). “Internalisasi Nilai Akhlak Karimah pada Peserta Didik melalui Metode Keteladanan dan Pembiasaan di Madrasah Ibtidaiyah Asih Putera Kota Cimahi.” POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. 10(2), 328-329.

Muslimah, Nurjanatim, et.al. (2024). “Internalisasi Nilai Akhlak Karimah pada Peserta Didik melalui Metode Keteladanan dan Pembiasaan di Madrasah Ibtidaiyah.” POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. 10(2), 328-329.

Nafiah, Azizatun dan M. Yunus Abu Bakar. (2021). "Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Buku 'Muslimah yang Diperdebatkan Karya Kalis Mardiasih'." Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman. 11(2), 110-111.

Nisa', Khoirun dan Feri Kusmanto. (2022). “Peran Guru PAI dalam Menginternalisasikan Karakter Kepedulian Sosial di SMPN 2 Plandaan Jombang.” Inovatif: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama, dan Kebudayaan. 8(2), 300-301.

Nuryanti, N., et.al. (2024). “Pendidikan Karakter Religius Berbasis Internalisasi Pendidikan Tauhid pada Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).” Journal of Education Research. 5(4), 4352.

Pasaribu, Benny, et.al. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi Dan Bisnis. Tangerang: Media Edu Pustaka, 2022.

Putri, Lisa dan Citrawati. (2025). “Penerapan Internalisasi Nilai Islam dalam Membentuk Karakter Disiplin Siswa di SDN 17 Batu Kunit.” EduSpirit: Jurnal Pendidikan Kolaboratif. 2(1), 364-365.

Putri, Alvia Amalani Mujaroh dan Zudan Rosyidi. (2024). “Pembentukan Karakter Religius dan Toleransi Siswa Madrasah Ibtidaiyah melalui Pembiasaan di Madrasah.” Rabbani: Jurnal Pendidikan Agama Islam. 5(1), 66.

Rokhman, Abdul, et.al. (2023). “Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Membentuk Akhlak Mulia Siswa.” Intizar: Jurnal Pendidikan Islam. 29(2), 201.

Shobri, Muwafiqus. (2021). “Strategi dan Dampak Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Pembentukan Karakter Islami Siswa.” CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman. 7(2), 286-287.

Sidarman, S., et.al. (2021). “Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik.” Muaddib: Islamic Education Journal. 4(2), 77.

Surawardi dan Nabila Pradina. (2024). “Pendidikan Nilai-Nilai Keagamaan pada Kegiatan Hari Besar Islam di Desa Manarap Tengah Handil Bahalang Kecamatan Kertak Hanyar.” Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan. 24(1), 78.

Syahidah, Dea. (2024). “Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Akhlak Mulia pada Peserta Didik.” Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam. 9(2), 1202-1203.

Syifa, Nurul dan Fahmul Hikam Al-Ghifari. (2025). “Implementasi Pembiasaan Sholat Berjama’ah sebagai Pendidikan Karakter bagi Peserta Didik Madrasah Ibtidaiyah.” AL-THIFL: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. 5(2), 143.

Taufikin dan Nany Kholilah. (2025). “Integrating Religious Practice Into Character Education: Pedagogical Insights from Indonesian Islamic Elementary School.” JIRE: Journal of Islamic Religious Education. 1(3), 172-173.

Thoha, M. dan Muhamad Nasrudin Fajri. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Religius melalui Pembiasaan Sholat Dhuha dan Dzuhur Berjamaah dalam Pembentukan Karakter Religius Siswa SMP Muhammadiyah 6 Jakarta.” Jurnal Tarbiyah Jamiat Kheir. 3(2).

Untung, Syamsul Hadi, et.al. (2025). “Internalisasi Nilai-Nilai Islami Dalam Pendidikan Karakter di Era Disrupsi Digital.” Jurnal Pendidikan Agama Islam. 4(2), 139.

Yani, Muhammad. (2021). “Konsep Dasar Karakteristik Kepemimpinan dalam Pendidikan Islam.” AL-HIKMAH: Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam. 3(2), 162.

Zahroh, Ikhfinaz, et.al. (2025). “Implementasi Kegiatan Pembiasaan Keagamaan dalam Membentuk Karakter Religius Peserta Didik di SD Islam Al-Chusnaini.” Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. 10(4), 428-430.

Zahroh, Nadiya Iffatus, et.al. (2022). “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam.” Metaedukasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan. 4(2), 117-118

Downloads

Published

2026-05-10

How to Cite

Maisaro, S. M., & Sa’diyah, S. (2026). Internalisasi Nilai-nilai Islam dalam Praktik Ritual untuk Membentuk Karakter Siswa : Internalization of Islamic Values in Ritual Practice to Form Student Character . Global Education Journal, 4(2), 33–44. https://doi.org/10.59525/gej.1544

Similar Articles

<< < 16 17 18 19 20 21 22 23 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.